Selasa, 06 September 2011

DiaRy Dan CiNta SejaTi


‘D

iary hari ini aku seneng banget, karena tanpa sengaja aku bias bertemu denan dia lagi di sini’. Begitu aku mengungkapkan isi hati yang sedang senang ini pada diary yang selalu menemani aku di manapun dan dalam keadaan apapun.

Aku selalu bercerita pada diary kesayanganku ini. Karena hanya dia yang selalu ada di saat aku senang maupun saat aku sedih. Walaupun diaryku ini tak dapat bicara tapi dia tau semua hal yang terjadi pada diriku selama ini. Aku sangat sayang sekali pada diaryku, aku tak dapat berpisah dari diary ini karena dia adalah sahabat sejatiku.

Di sekolah aku adalah anak yang kurang bergaul, tapi walaupun begitu aku termasuk anak yang paling pntar di sekolah dan selalu menjadi juara umum di sekolah. Sebenarnya aku ingin sekali memiliki teman selain diaryku. Tapi anak-anak di sekolah tak pernah ada yang mau mendekatiku. Mereka selalu menjauh saat aku mencoba bergabung dengan mereka.

Sebenarnya saat ini ada seseorang yang sedang mengusik hatiku. Dia seorang cowok yang menurutku adalah cowok yang paling tampan di seluruh dunia. Aku suka padanya, tapi sampai saat ini aku tak pernah mencoba untuk mendekatinya. Dia Raka teman satu kelasku. Dia adalah salah satu saingan ku dalam mata pelajaran di sekolah. Tapi walau begitu aku tetap tidak pernah marasa bahwa dia adalah rivalku. Dia adalah anak yang baik, mungkin itu yang membuatku suka padanya.walaupun dia jarang berkomunikasi denganku, tapi dia selalu senyum padaku saat berpapasan.

‘Diary, seandainya aku bias bicara tentang perasaanku sama dia..’ lagi-lagi aku mencurahkan perasaanku pada diary.

***

“Kara coba kamu kerjakan soal yang ada di papan tulis!!” bu andra guru matematikaku menyuruhku untuk mengerjakan soal-soal yang ada di papan tulis.

“Ya bu.” Jawabku dan segera ku kerjakan soal-soal itu.

Dengan mudah aku mengerjakan soal-soal itu, dan dengan hitungan detik jawaban sudah tertera di depan papan tulis itu.

“Bagaimana? Apa ada di antaa kalian yang masih belum mengerti dengan yang sudah dikerjakan oleh Kara?” Tanya bu Andra pada anak-anak yang sedang mengikuti pelajaran.

“Saya bu,” jawab Raka tiba-tiba dengan antusias,”saya masih belum mengerti dengan cara yang di buat oleh Kara. Saya rasanya belum pernah mencoba cara seperti itu?”

“Ok, Kra mungkin bisa menjawab?” bu Andra melimpahkan pertanyaan padaku.

Wah, Raka nanya’? mimpi apa semalam? Aku tiba-tiba marasa kegirangan dengan dengan peristiwa ini. Dengan agak grogi aku menjawab pertanyaan itu.

“Saya mendapat cara seperti itu dari beberapa hasil coba-coba saya terhadap beberapa soal dan setelah saya cocokkan dengan cara yang sebenarnya hasilnya sama, sehingga saya mencoba menerapkan cara ini karena caranya lebih mudah dan gampang dimengerti.”

“Oh, begitu. Ternyata kamu selain pintar juga pandai bereksperimen ya? Wah, saya salut. Kapan-kapan saya boleh ga’ belajar bareng sama kamu?” tawar Raka dengan penuh antusias.

“Oh, tentu saja boleh.” Jawabku, rasanya hati berbunga-bunga mendengar kata-kata itu.

“Ok, kalau begitu bagaimana kalau kita buat kelompok belajar seperti yang diusulkan oleh Raka?! Mungkin dengan begitu kalian bias cepat memahami materi ini.” Saran bu Andra dengan antusias juga.

“Ah, ga’ seru bu! Masa kita disuruh belajar sama dia?! Jatuh dong gengsi kita ya ga’?!” salah satu temanku menolak usulan itu dengan sangat menyakitkan hatiku.

Sakit sekali rasanya mendengar mereka berkata seperti itu di depan semua anak yang ada di kelas. Rasanta wajah ini mau di taruh di mana? Apa sih salahnya aku hingga senua orang ga’ suka sama aku? Padahal aku sudah mancoba baik sama mereka. Setiap ada yang minta dibuatkan pr, aku selalu dengan senang hati membuatkan tanpa minta imbalan. Tapi kenapa?

‘Diary, seandainya saja kamu bias bicara pasti aku ga’ akan kesepian seperti sekarang ini.’ Selalu saja akhir dari cerita masa-masa di sekolah begini.

“Kara, kamu ga’ papakan dengan omongan mereka tadi?” Tanya Raka saat jam istirahat di perpustakaan.

“Ga papa kok, biasa aja lagi. Aku sudah kebal kok dengan omongan mereka.” Jawabku agak sedih.

“Udah biarin aja mereka ga’ mau ikut belajar bareng sama kita, yang penting kamu jangan patah semangat dan ga’ mau belajar bareng sama aku ya!?” hibur Raka.

“Ya ga’ lah, aku malah senang kalau kamu mau belajar bareng sama aku. Kan kamu tau sendiri kalau aku ga’ punya banyak teman.”

“Oh ya, jadi kapan kita mulai belajarnya?” tanyanya lagi.

“Besok juga bisa. Lagian besok kan ga’ ada pelajaran paling Cuma Jum’at sehat jadi pulang sekolah kita bisa belajar di perpustakaan.

“Ya udah kalau gitu, aku ke kelas dulu ya?!” Pamitnya.

“Dagh..!!” jawabku. Walaupun hati ini masih sedih dengan kejadian tadi, tapi dengan Raka menghiburku aku makin tambah saying sama dia. Mungkin ga’ ya dia juga punya perasaan yang sama seperti yang aku rasakan?

***

‘Dear diary, hari ini aku dan Raka akan belajar bareng di perpus. Do’ain aku ya supaya hari ini ga’ ada hal-hal yang ga’ diinginkan! Aku grogi banget nih. Dan teman-teman yang ga’ suka sama aku semoga menjadi suka dan mau berteman sama aku. Diary, gimana ya supaya dia tau kalau aku suka sama dia? Tapi aku malu kalalu harus bilang sama dia. Masa cewek ngomong duluan? Kan ga’ lucu.’ Diary sekarang sudah jam 10 dan aku harus cepat-cepat pergi ke perpus, Raka sudah nunggu dari tadi, ntar dia ga’ jadi lagi belajar sama aku. Kamu tinggal di kelas dulu ya?! Ntar kalau sudah selesai kita jalan-jalan . dagh…!!!’

Aku pun bergegas pergi ke parpustakaan menemui Raka. Dan di sana ku dapati dia sedang mempersiapkan apa-apa aja yang mau di pakai buat belajar. Wah, ternyata rajin juga ya Raka. Aku makin tambah suka deh sama dia.

“Hai Raka!” sapaku dengan hati-hati takut membuatnya terkejut.

“Hai juga, eh dah datang tunggu sebentar ya!!” jawabnya. Dan aku pun menunggunya.

Sekarang kami akan belajar tentang pelajaran yang kemarin aku kerjakan di papan tulis. Sayang teman-temanku ga’ ada yang mau belajar bareng sama kami, padahal pelajaran ini kan rada-rada sulit dan perlu di mengerti. Tapi ada bagusya juga sih, kan aku bisa jadi berduaan aja sama Raka.

Aduh aku jadi kangen nih sama diaryku. Aku pengen cepat-cepat bisa cerita sama dia. Dan mala mini aku akan mimpi indah sekali tentang aku dan Raka.

“Yah selesai juga deh belajarnya.” Ucapku agak merasa tak puas dengan waktu yang cepat berlalu.

“Iya, eh tapi kita masih tetap belajar barengkan?” Tanya Raka, “gimana kalau hari Minggu?! Kan kita hari rabu ada ulangan tentang ini, jadi ada persiapan yang matang. Gimana?”

“Ya, oklah.” Jawabku singkat.

“Aku pulang dulu ya..!?”

“Dagh..!!”

Aku pun kembali ke kelas untuk mengambil tas dan diaryku. Dengan perasaan senang dan bahagia karena telah menghabiskan waktu bersama dengan Raka.

Setiba di kelas aku mendapat kejutan yang tidak menyenangkan buatku. DIARYKU hilang!! Betapa terkejutnya aku mengetahui hal itu. Aku mencarinya di setiap sudut kelas napun hasilnya nihil. Tak satupun jejaknya terlihat. Sebenarnya di mana diaryku itu? Satu-satunya sahabat yang selalu menemaniku hilang dan aku tak tahu harus mencarinya kemana. Aku mau bertanya pad teman-teman, tapi tak satupun dari mereka manghiraukanku. Raka sudah pegi dari tadi dan tak mungkin bisa membantu. Aku takut kalau ada orang yang membaca dan menyebarkan isi diaryku ke semua orang.

Dengan hati sedih dan takut kalau-kalu ada yang sudah membaca isi diaryku itu, aku pun pulang. Sampai di rumah aku tak keluar dari kamar. Aku mengurung diri di sana dan tak mau makan. Bagaimana aku bisa makan kalau semua rahasia tentang diiku ada di diary itu? Apa lagi semua isi hati yang ku rasakan pada Raka pun aku tulis demua di situ.

“Kar, makan dulu! Ntar sakit lagi!” panggil kakak laki-lakiku Doni. Dia memang sangat perhatian sama aku dan terlebih lagi dia selalu jadi teman curhatku juga.

“Ga’ kak, aku ga’ lapar.” Dengan suara parau akibat terus-menerus menangis aku menolak tawaran kakak.

“Kamu kenapa?” Tanya dari luar kamarku karena aku tak membuka pintu itu dari pulang sekolah tadi. “Coba bika pintunya! Mungkin kakak bisa bantu?!” tawarnya. Dan aku pun membuka pintunya.

Dengan wajah penasaran melihatku berlinang air mata kakak mencoba mendekatiku dan berusaha untuk menenangkanku………….

To Be ConTInued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar